Get Money

Senin, 14 Maret 2011

PANCING: POLE AND LINE

Pancing (Hook and Line)
Pole and Line (HUHATE)

1. Definisi dan Klasifikasi
   Pole and line atau huhate adalah alat penangkapan ikan yang terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dan tali sebagai tali pancing. Pada tali pancing ini dikaitkan mata pancing yang tidak berkait dimaksudkan agar ikan dapat mudah lepas. Pada pengoperasiannya alat tangkap ini dilengkapi dengan umpan dalam bentuk mati ataupun hidup. Alat tangkap ini termasuk dalam klasifikasi pancing (hook and line).


2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
   Pole and line terdiri dari gandar yang biasa terbuat dari bambu, tali pancing dan mata pancing. Panjang galah biasanya tergantung ukuran perahu yaitu semakin besar ukuran perahu yang digunakan, ukuran gandar atau joran juga semakin panjang dan terbuat dari bambu atau fiberglass karena ringan dan lentur. Tali utama terbuat dari bahan nylon monofilament warna merah atau hijau dan panjangnya 2/3 dari panjang gandarnya.
   Mata pancing pole and line ini ada dua macam yaitu yang berkait balik dan tidak berkait balik, namun yang sering digunakan adalah yang tidak berkait balik. Mata pancing ini diselipkan seakan-akan disembunyikan pada umpan tiruan, sehingga secara tidak langsung kelihatan menyolok. Untuk mata pancing yang berkait balik memakai umpan, yaitu umpan hidup atau masih segar. Penggunaan mata pancing ini hanya dilakukan kalau nantinya ikan yang akan ditangkap tidak suka menyambar umpan tiruan.
   Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Balai Keterampilan Penangkapan Ikan Ambon (1981), huhate terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut, joran/galah yang terbuat dari bambu atau plastik dengan panjang yang berkisar antara 2 - 3,25 meter. Kemudian tali dari bahan sintetis, monofilament atau multi filament dengan panjang 1,5 – 2,5 meter dan diameter tali 0,2 – 0,3 meter. Lalu kawat baja (wire leader) yang panjangnya 5 – 10 cm, terdiri dari 2 – 3 urat yang disatukan/ dipintal dengan diameter 1,2 mm. setelah itu mata kail (hook) yang khusus, karena ujungnya tidak memiliki kait. Gambar konstruksi alat dapat dilihat pada lampiran.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
     Bentuk kapal pole and line sangat berperan penting dalam keberhasilan penangkapan ikan ini, untuk itu kapal yang digunakan harus sesuai untuk pengoperasian. Menurut Subani dan Barus (1989), ada beberapa ciri khusus bentuk kapal pole and line diantaranya yaitu pertama pada bagian atas dek kapal bagian depan terdapat plataran ( flat form ) yang digunakan sebagai tempat memancing, kedua dalam kapal harus tersedia bak-bak untuk penyimpanan ikan umpan yang masih hidup, dan yang ketiga pada kapal pole and line ini harus dilengkapi sistem semprotan air ( water splinkers system ) yang dihubungkan dengan suatu pompa.
      Sedangkan tenaga pemancing jumlahnya bervariasi misalnya saja untuk kapal ukuran 20 GT dengan kekuatan 40-60 HP. Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang stream line dan mempunyai olah gerak kapal yang lincah dan tergolong kapal yang mempunyai kecepatan service sedang yaitu diatas 10 knot dan gerakan stabilitas yang baik untuk mengejar segerombolan ikan, yakni kapal tersebut sambil olah gerak.
3.2 Nelayan
     Untuk pengoperasian alat tangkap pole and line ini dibutuhkan tenaga anak buah kapal (ABK) berjumlah 22-26 orang, dengan ketentuan sebagai berikut : 1 orang sebagai kapten, 1 motoris, 1-2 orang pelempar umpan, 1 orang sebagai koki dan sisanya sebagai pemancing (Subani dan Barus, 1989).
3.3 Alat bantu
     Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap huhate ini biasanya dalam pengoperasian alat sering menggunakan alatbantu diantaranya yaitu pila-pila yaitu digunakan sebagai tempat duduk atau berdiri tempat pemancing, yang letaknya bisa pada bagian haluan dan buritan antara sepanjang lambung kiri dan kanan (Ditjenkan, 1994).
    Pipa Penyemprot atau sprayer digunakan untuk menyemprot air secara percikan ke permukaan laut. Tujuannya adalah untuk mengelabui ikan-ikan seolah-olah pada permukaan laut terdapat banyak ikan terutama cakalang. Kemudian alat bantu berikutnya yaitu bak umpan, bak umpan digunakan sebagai tempat umpan. Pada bak umpan tersebut sebaiknya diberi warna putih supaya lebih mudah dan dengan lampu penerang di beberapa tempat masing-masing berkekuatan 50 watt. Fungsi dari lampu tersebut agar dapat memberikan fototaksis positif dari ikan, sehingga ikan-ikan tersebut dapat membentuk schooling yang baik. Apabila dalam bak umpan tidak dipasang lampu, maka dapat menyebabkan umpan banyak bergerak secara tidak menentu, antara umpan yang satu dengan lainnya saling bertubrukan dan membuat umpan tersebut rusak tidak dapat dipergunakan
    Sibu-sibu digunakan untuk menaikkan umpan hidup dari palka umpan ke dalam bak penebar umpan dan juga untuk menebarkan umpan hidup ke laut. Sibu- sibu yang berukuran kecil dipakai untuk menebar umpan dari bak penebar ke laut, sedangkan sibu-sibu besar digunakan untuk memindahkan umpan dari palka ke dalam bak penebar umpan. Lalu ada ember digunakan untuk mengangkat umpan hidup dari bagan nelayan ke dalam palka umpan, dan juga untuk berbagai keperluan. Ember ini juga menjadi ukuran dalam menentukan banyaknya umpan yang dimasukkan ke dalam palka umpan.
3.4 Umpan
      Penangkapan ikan cakalang dengan huhate atau pole and line biasanya menggunakan jenis umpan untuk mengumpulkan ikan cakalang yaitu umpan hidup. Jenis umpan hidup yang paling baik digunakan dalam perikanan Pole and line adalah ikan teri (Subani, 1973; Murdianto, Rosana dan Penturi, 1995 dalam Simbolon D, 2003). Pada mata pancing alat huhate ini biasanya dipasang bulu ayam yang berfungsi untuk mengelabui ikan sasaran dan menutupi mata pancing.

4. Metode Pengoperasian Alat
    Pengoperasian alat tangkap pole and line ini ada beberapa tahap yang harus dijalankan yaitu tahap pertama adalah persiapan meliputi kegiatan merangkai alat pancing, mempersiapkan tempat penyimpanan hasil tangkapan, menyediakan umpan, menyediakan alat bantu penangkapan, pengisian BBM dan perbekalan makanan untuk para ABK. Setelah semua persiapan selesai maka tahap selanjutnya adalah keberangkatan mencari fishing ground. Pencarian gerombolan ikan ini dapat dilakukan secara manual yaitu mencari langsung kawanan ikan dengan berlayar kesana-kemari ada pula yang hanya memperhatikan kawanan burung laut atau mendatangi rumpun yang sebelumnya sudah dipersiapkan. Setelah mendapatkan lokasi kawanan ikan maka tahap yang selanjutnya yaitu pemancingan. Pemancingan dilakukan dengan cara melemparkaan ikan umpan hidup sebagai perangsang agar cakalang lebih mendekat ke arah kapal sehingga lebih mudah dijangkau oleh pancing. Setelah ikan mendekat, agar umpan hidup tidak banyak terbuang, maka kran penyemprot air laut dibuka dan setelah ikan terlihat meloncat-loncat kemudian dipancing.
    Kegiatan pemancingan ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas permukaan air dan bila disambar oleh cakalang, dengan cepat diangkat melalui atas kepala dan secara otomatis terlempar ke dalam dek kapal. Hal demikian dilakukan hingga berulang-ulang. Pemancingan dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting. Disamping itu ada yang disebut dengan cara gepe yaitu cara pemancingan dengan pole and line dimana setelah ikan terkena pancing dan diangkat dari dalam air kemudian pengambilan dari mata pancing dilakukan dengan cara menjepit ikan diantara tangan dan badan si pemancing. Hal yang menjadi parameter keberhasilan dalam penangkapan dengan cara ini yaitu kelengkapan alat bantu, waktu penangkapan, faktor politik dan keahlian pemancing. Untuk lama pengoperasian pole and line ini waktu yang dibutuhkan bisa sampai 1-2 jam dalam hal penangkapan, namun untuk lama perjalanan dan pengoperasiannya bisa mencapai 1-3 minggu.

5. Daerah Pengoperasian
   Menurut Uktolseja et al (1989), daerah penangkapan untuk tuna dipengaruhi oleh arus dan suhu perairan. Setiap jenis tuna memiliki suhu optimum, diantaranya, blue fin tuna dan albacore suhu optimum berkisar 15- 210C, skipjack tuna (cakalang) suhu optimum 19-240C, dan little tuna (tongkol) dengan suhu optimumnya 12-240C
    Di perairan Indonesia, penangkapan dengan menggunakan pole and line banyak terdapat di wilayah Indonesia timur seperti Minahasa, Gorontalo, Air tembaga, Ambon, Bacan, Banda, Teratai dan Sorong. Sedangkan daerah penangkapan ikan dunia dengan menggunakan pole and line sebagai berikut, antara lintang 400LU-400LS yaitu daerah kepulauan Hawai, Chili, dan daerah ekuator lainnya. Kemudian daerah kepulauan Hokkaido dan Filipina serta Samudera Atlantic dan Laut Mediterania

6. Hasil Tangkapan
   Usaha penangkapan dengan pole and line biasanya ditujukan yang utama yaitu untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) akan tetapi dalam kenyataannya sering tertangkap juga hasil sampingan beberapa jenis ikan yang lain, diantaranya: yellow fin tuna (Thunnus albacares), little tuna (Auxis thazard), dan lain-lain (Balai Keterampilan Penangkapan Ikan Ambon, 1981). Selanjutnya dalam FAO (1980) mengatakan bahwa para nelayan pole and line terutama menangkap ikan skipjack (Katsuwonus pelamis), albacore (Thunnus alalunga), tuna kecil seperti frigate mackerel (Auxis spp), dan ikan dolphin (Coryphaena spp), juga yellow fin (Thunnus albacares), ikan-ikan muda spesies ikan tuna yang besar yang lain, bonito (Sarda spp), dan tuna kecil (Euthynnus spp). Semua jenis tadi tersebar secara luas di lautan dan Samudera di dunia.

daftar pustaka
Subani,W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia Jurnal Penelitian Perikanan Laut Nomor : 50 Tahun 1988/1989. Edisi Khusus. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar